Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi: Asesmen Dalam Kurikulum Merdeka, Pelatihan Pembelajaran dan Pelayanan PDBK

CIRACAS – Jum’at 4 Agustus 2023 Forum Guru SMAN 105 Jakarta melaksanakan Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi: Asesmen Dalam Kurikulum Merdeka, Pelatihan Pembelajaran dan Pelayanan PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan Khusus). Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan di Ruang AVI SMAN 105 Jakarta pada pukul 13.00-14.30 yang dipandu oleh Dr. Baharudin, S.Pd, M.Pd sebagai narasumber dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Wakabid Kurikulum SMAN 105 Jakarta, Siti Khoiriyah yang memberikan penegasan akan pentingnya kegiatan pelatihan ini mengingat SMAN 105 Jakarta menerima PDBK. Sebagai penanda pembuka kegiatan pelatihan ini, Kepala SMAN 105 Jakarta, Sunar Wibawa memberikan motivasi kepada dewan pendidik untuk mengikuti kegiatan ini dengan semangat agar terciptanya persamaan persepsi dan dapat memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik khususnya PDBK yang ada di SMAN 105 Jakarta.

Pada kegiatan pelatihan ini Pendidik diberikan gambaran umum mengenai pendidikan inklusif berdasarkan Permendiknas No. 70 tahun 2009 tentang Sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Selain itu juga diberikan pemahaman akan siapa yang termasuk ke dalam PDBK di sekolah inklusi? Pemahaman itu diperoleh dengan memahami ragam disabilitas yang diantaranya termasuk dalam kategori ini antara lain; (1) penyandang disabilitas fisik; (2) penyandang disabilitas intelektual; (3) penyandang disabilitas mental; (4) penyandang disabilitas sensorik ; dan (5) penyandang disabilitas ganda.

Setelah memahami tentang konsep pendidikan inklusif dan indentifikasi peserta didik yang termasuk ke dalam kategori PDBK. Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan dan diskusi mengenai identifikasi tantangan dan masalah yang dapat terjadi disekolah inklusi dan bagaimana menangani PDBK dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pendidik dapat dengan tepat melakukan indentifikasi dan melakukan asesmen bagi PDBK di sekolah.

Perlu dipahami bahwa indentifikasi dilakukan untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami hambatan/gangguan (phisik, intelektual, sosial, emosional, dan atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami hambatan/gangguan (phisik, intelektual, sosial, emosional). Di dalam asesmen yang perlu dilakukan adalah proses pengumpulan data atau informasi sebanyak mungkin tentang kondisi, kemampuan, kebutuhan peserta didik dengan mempergunakan alat dan teknik yang sesuai untuk membuat keputusan dalam layanan pendidikan berkenaan dengan penempatan dan program pembelajaran bagi peserta didik tersebut Tujuan asesmen adalah untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).

Lalu, siapa yang harus mengindentifikasi dan melaksanakan asesmen bagi PDBK? Identifikasi dapat dilakukan oleh Guru kelas; Guru mata pelajaran/Guru BK; Guru Pendidikan Khusus; Orang tua anak; dan atau; Tenaga profesional terkait. Sedangkan untuk Asesmen bagi PDBK dapat dilakukan oleh: Guru kelas/mata pelajaran/Bimbingan dan Konseling ; Guru Pembimbing Khusus; Guru Pendidikan Khusus; Tenaga Ahli Lainnya (Dokter, Psokolog, Terapis, Optometris, Ahli Gizi, dsb.) sesuai dengan kebutuhan dan kewenangannya. Di bawah ini adalah alur umum penangan PDBK di sekolah inklusif:

Bagaimana merancang pembelajaran dan Asesmen bagi PDBK? Apa tugas satuan pendidikan/pendidik?. Adapun yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan/pendidik adalah (1) memahami dan menganalisis CP; (2) Merumuskan TP; (3) Menyusun ATP; dan (4) Merancang pembelajaran (RPP/MA). Di dalam menganalisis CP bagi PDBK di satuan pendidikan reguler/inklusi dapat menggunakan CP satuan pendidikan reguler yang dimodifikasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Peserta didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual menggunakan CP reguler dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum.

Penentuan fase pada PDBK didasarkan pada hasil asesmen awal sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Di dalam merumuskan tujuan pembelajaran (TP) dirumuskan dari analisis Capaian Pembelajaran. Selain terdiri atas dua komponen, yaitu kompetensi dan lingkup materi, tujuan pembelajaran juga mencakup variasi dan akomodasi layanan sesuai karakteristik peserta didik. Pendidik dapat mengembangkan metode pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi pendekatan pembelajaran sesuai dengan jenis kekhususan dan kebutuhan peserta didik.

Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) menggunakan beberapa metode pengurutan konten, antara lain: dari konkret ke abstrak, dari umum ke khusus, dari mudah ke sulit, hirarki, procedural,, atau scaffolding sebagai upaya fasilitasi dan akomodasi kebutuhan PDBK. Sedangkan di dalam pembuatan Modul ajar atau RPP pada ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup melampirkan beberapa contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)/modul ajar atau bentuk rencana kegiatan. Di dalam pelaksanaan pembelajaran terutama dalam konteks pendidikan inklusif, proses pembelajaran dapat dilakukan modifikasi dengan cara antara lain; (1) modifikasi isi/materi; (2) modifikasi soal; (3) modifikasi alat; (4) modifikasi waktu; (5) modifikasi tempat; dan, (6) modifikasi cara.

Setelah memahami akan perencanaan pembelajaran bagi PDBK, selanjutnya diberikan pemaparan tentang praktik pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dapat memberikan pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman/kompetensi awal peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi ini pun juga menjadi solusi pembelajaran bagi PDBK. Bagaimana cara mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi?. Asesmen di awal pembelajaran dilakukan hanya terkait kesiapan peserta didik pada kompetensi yang akan dituju/dipelajari. Hasilnya digunakan untuk menyesuaikan rencana pembelajaran yang dibuat agar sesuai dengan tahap pembelajaran peserta didik. Asesmen pada awal pembelajaran diharapkan dapat dilakukan secara natural, seperti diskusi ringan pemantik di awal kegiatan, permainan, kuis sederhana, atau dapat dilihat juga dari hasil asesmen sebelumnya (untuk kompetensi prasyarat).

Pembelajaran berdiferensiasi didasarkan pada hasil asesmen awal pembelajaran pada lingkup materi tertentu. Hasil asesmen awal pembelajaran ini memberikan informasi kesiapan belajar peserta didik yaitu informasi kesesuaian pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki peserta didik saat ini, dengan pengetahuan atau keterampilan baru yang akan dipelajari. Berdasarkan perspektif Pendidik, pembelajaran berdiferensiasi antara lain berkaitan dengan; (1) konten atau materi yang akan diajarkan disesuaikan dengan kesiapan minat dan profil peserta didik; (2) proses atau cara mengajarkan penggunaan kegiatan bermakna bagi peserta didik sebagai pengalaman belajarnya di kelas; (3) Lingkungan belajar disesuaikan dengan kesiapan peserta didik dalam belajar, minat dan profil belajar agar memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar; dan (4) Produk atau hasil akhir pembelajaran untuk menunjukkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman peserta didik setelah menyelesaikan pembelajaran.

Pendidik pun juga harus memahami diferensiasi berdasarkan perspektif peserta didik antara lain; (1) minat, di mana minat memiliki peranan yang besar untuk menjadi motivator dalam belajar; (2) kesiapan, berkaitan dengan sejauh mana kemampuan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran; (3) gaya belajar, mengacu pada pendekatan atau bagaiman cara yang paling disenangi peserta didik agar mereka dapat memahami pelajaran dengan baik.

Di dalam penilaian/asesmen dengan mengacu pada Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 di mana Pemilihan dan/atau pengembangan instrumen Penilaian dilaksanakan oleh Pendidik dengan mempertimbangkan karakteristik kebutuhan Peserta Didik dan Penilaian pencapaian hasil belajar Peserta Didik dengan membandingkan pencapaian hasil belajar Peserta Didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Adapun jenis penilaian yang dapat dilakukan antara lain; (1) observasi; (2) kinerja; (3) projek; (4) tes tertulis (5) tes lisan; (6) penugasan; (7) portofolio; (8) rubrik; (9) ceklis; (10) catatan anekdotal; dan (11) grafik perkembangan (kontinum). Asesmen sendiri terbagi menjadi dua jenis; (1) formatif yang dapat dilaksanakan pada awal dan selama proses pembelajaran; (2) sumatif yang dilaksanakan pada akhir pembelajaran.

Dengan adanya Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi: Asesmen Dalam Kurikulum Merdeka, Pelatihan Pembelajaran dan Pelayanan PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan Khusus) di SMAN 105 Jakarta ini, diharapkan satuan pendidikan dan pendidik dapat lebih memahami dan siap dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik secara umum dan PDBK secara khususnya. (MA)

Scroll to Top