Sosialisasi Anti-Bullying di SMAN 105 Jakarta

CIRACAS – Jum’at 27 Juli 2023 SMAN 105 Jakarta melaksanakan kegiatan anti-bullying di Ruang AVI SMAN 105 Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan peserta didik kelas XI sebanyak 50 orang. Sosialisasi anti-bullying di SMAN 105 Jakarta merupakan langkah yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan intimidasi. Kegiatan sosialisasi anti-bullying ini dilaksanakan pada pukul 08.00-09.30 yang dipandu oleh Nonie, sekaligus pula sebagai narasumber dari Generasi Cerdas Indonesia (GCI).

Adapun materi awal yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah mengenai pengertian bullying itu sendiri. Bullying dalam Bahasa Indonesia artinya perisakan yang berarti mengusik atau mengganggu. Bully adalah segala bentuk perilaku menyakiti orang lain baik fisik maupun psikis. Berdasarkan data KPAI, sepanjang tahun 2022 terdapat 226 kasus kekerasan fisik dan psikis yang dialami remaja di sekolah. Ada pun peserta didik diberikan pemahaman mengenai beberapa jenis bullying diantaranya; (1) verbal bullying, (2) physical bullying, (3) Cyber bullying, dan (4) vandalisme.

Pada pemaparan selanjutnya peserta didik juga diberikan pemahaman mengenai hal-hal yang menyebabkan terjadinya bullying. Seperti yang disampaikan oleh narasumber, bahwa bullying terjadi karena ada ketidakseimbangan kekuatan. Ada yang merasa super power, dan di sisi lain ada yang merasa lemah.

Ada pula aktor-aktor yang terlibat dari kegiatan bullying ini antara lain adalah pelaku, korban dan juga penonton. Berdasarkan pada indentifikasinya, pelaku (pembully) umumnya memiliki kekuatan fisik maupun sosial. Sebenarnya bisa jadi, pembully sendiri awal mulanya adalah korban dari bullying itu sendiri. Perubahan perannya menjadi pembully dikarenakan ada niatan sebagai pelampiasan atas apa yang telah mereka alami. Secara psikologis, sebenarnya pembully adalah orang yang tidak bahagia. Oleh karena itu, mereka mencari kebahagiaan dengan cara menindas orang lain.

Sedangkan indentifikasi yang menjadi korban dari bullying pada umumnya adalah ia yang menjadi minoritas karena “berbeda”. Perbedaan itu bisa dilihat dari perbedaan fisik, etnis, agama dan lain-lain. Selanjutnya yang dikategorikan sebagai korban adalah orang yang “dianggap” lemah baik secara fisik, intelektual, dan sosial. Selain itu, mereka yang menyendiri karena sifatnya maupun memang tidak pandai dalam bergaul serta orang yang dianggap sombong dan tidak menyenangkan pun dapat berpotensi menjadi korban bullying.

Di antara dua indentifikasi itu, yang memprihatinkan adalah siapapun yang menjadi penonton dari aksi bullying ini. Di mana sebenarnya penonton adalah jumlah terbanyak dari adanya bullying. Adapun beberapa sikap yang ditunjukkan oleh penonton, di mana diantaranya ada yang bersikap menjadi supporter bagi pelaku, maupun ada penonton yang sebenarnya berpihak pada korban, namun tidak berani melakukan pembelaan. Namun, mirisnya penonton inilah yang memiliki “dosa” paling besar. Karena penonton kerap kali bersikap diam terhadap aksi bullying.

Kegiatan sosialisasi anti-bullying ini diikuti dengan rasa antusias oleh perwakilan peserta didik SMAN 105 Jakarta. Dengan adanya kegiatan sosialisasi anti-bullying diharapkan peserta didik berperan aktif dalam mencegah bullying di SMAN 105 Jakarta.

Scroll to Top